(Muqas) XI, Sabtu (23/11), dengan mengusung konsep bernuansa Turki Utsmani. Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia mengangkat tema “Dari Penakhlukan Menuju Pencerahan”, sebuah gagasan yang berpijak pada nilai-nilai perubahan diri sebagaimana semangat Aceh Besar – Madrasah Ulumul Qur’an (MUQ) Pagar Air Aceh kembali menyelenggarakan Musabaqah Qur’ani dan Akademik Santri kemajuan yang pernah mengiringi kejayaan Kesultanan Utsmani.
Area madrasah tampak dihiasi ornamen khas Utsmani seperti motif arabesque, warna-warna imperial biru–emas, hingga instalasi visual menyerupai arsitektur masjid-masjid peninggalan era Sultan Mehmed II dan Suleiman al-Qanuni. Nuansa itu menghadirkan atmosfer historis yang kuat pada jalannya acara, namun tetap mempertahankan karakter pendidikan pesantren Aceh.
Kepala MUQ Pagar Air, Dr. Tgk. Syarifuddin, dalam sambutannya menyatakan bahwa pengambilan tema dan estetika Turki Utsmani bertujuan menanamkan kembali nilai keberanian, kedisiplinan, dan pencerahan ilmu sebagaimana menjadi karakter penting peradaban Islam masa itu.
“Penakhlukan yang kita maksud bukan ekspansi wilayah seperti dalam sejarah Utsmani, tetapi penakhlukan terhadap kelemahan diri dan kebodohan. Dari proses itu lahir pencerahan, sebagaimana umat Islam dahulu melahirkan ilmu, seni, dan peradaban,” kata Syarifuddin.
Kompetisi Beragam dengan Sentuhan Budaya Utsmani
Rangkaian lomba dalam Muqas XI tetap berorientasi akademik dan Qur’ani, namun sebagian diperkaya elemen budaya Utsmani, seperti penggunaan busana bernuansa Ottoman official dress pada pembawa acara dan tim protokol.
Cabang perlombaan meliputi:
- Tahfiz Al-Qur’an berbagai kategori
- Syarhil dan Tilawah Qur’an
- Debat ilmiah santri
- Pidato tiga bahasa
- Presentasi inovasi sains Islami
- Pameran karya kreatif santri bertema Ottoman Heritage
Ketua Panitia, Ustaz Muhammad Rizki, menyebut bahwa tema Utsmani dipilih karena relevan dengan semangat pendidikan Islam yang progresif.
“Kesultanan Utsmani dikenal karena harmoni antara kekuatan spiritual dan intelektual. Pesan itu yang ingin kita bawa dalam Muqas XI—bahwa santri harus kuat dalam ilmu, disiplin, dan etika,” jelasnya.
Talkshow Bertema Peradaban: Menakar Utsmani dan Masa Kini
Agenda yang banyak menarik perhatian peserta adalah Talkshow Pencerahan Generasi, yang tahun ini secara khusus membahas “Peradaban Islam dari Utsmani ke Era Digital”. Tiga alumni MUQ yang menjadi narasumber memaparkan bagaimana nilai ketekunan, literasi ilmu, dan kepemimpinan ala Utsmani dapat dijadikan inspirasi bagi santri masa kini.
Akademisi Islam Fauzan, M.Ed., salah satu narasumber, menegaskan bahwa generasi Qur’ani perlu memahami sejarah sebagai sumber hikmah.
“Utsmani bukan sekadar kisah kejayaan, tetapi pelajaran tentang manajemen ilmu, ketangguhan moral, dan visi peradaban. Santri harus mengambil sisi terbaiknya untuk menjawab tantangan era digital,” katanya.
Antusiasme Tinggi, Dukungan Masyarakat Mengalir
Pantauan lapangan menunjukkan antusiasme besar dari santri dan masyarakat. Pendopo dan aula madrasah dipadati peserta, sementara area pameran mendapat kunjungan tertinggi karena menampilkan miniatur arsitektur Utsmani serta karya kaligrafi bertema Istanbul era klasik.
Seorang peserta lomba pidato, Aulia Rahmat, menyampaikan bahwa tema Utsmani membuat kegiatan tahun ini terasa lebih hidup dan inspiratif.
“Kami seakan diajak melihat kembali peradaban Islam yang jaya. Itu membuat kami lebih percaya diri dan tergerak untuk belajar lebih dalam,” ujarnya.
Penguatan Peran Pesantren dalam Literasi Peradaban
Sejumlah pejabat pendidikan yang hadir memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Muqas XI. Mereka menilai konsep tematik yang diangkat mampu memperluas wawasan sejarah dan budaya global bagi santri tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.
Muqas XI dinilai tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang penguatan identitas santri sebagai generasi yang sadar sejarah dan memiliki orientasi peradaban.
Menuju Malam Anugerah Pencerahan
Rangkaian kegiatan akan berlanjut hingga malam penutupan, yakni Malam Anugerah Pencerahan, yang akan menampilkan penyerahan penghargaan kepada para juara serta pertunjukan seni Islami bernuansa Turki Utsmani, termasuk pembacaan syair-syair Ilahi yang populer di era itu.

Dengan perpaduan tema “Dari Penakhlukan Menuju Pencerahan” dan estetika Turki Utsmani, Muqas XI diharapkan dapat menjadi momentum pembentukan karakter santri yang kuat secara spiritual, luas secara intelektual, dan tegas dalam nilai-nilai peradaban I (Annisa Nanda Syafira)